PREEKLAMSIA-EKLAMSIA: KETIKA BAYI “MERACUNI” IBUNYA
Tekanan darah yang tiba-tiba naik pada usia kehamilan 20 minggu bisa jadi petunjuk awal adanya preeklamsia-eklamsia. Kalau tidak cepat ditangani bisa membahayakan jiwa sang ibu dan bayi.
Alangkah bahagianya Henny saat mendapat kepastian hasil tes urinenya positif. Berarti ia bakal punya momongan. Bulan demi bulan kehamilannya tampak normal sampai pada minggu ke-20 atau sekitar 5 bulan, tiba-tiba ia merasa sering pusing. Tekanan darahnya yang biasanya cuma sekitar 110-80 mendadak naik menjadi 140-100. Ketika hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan air seninya mengandung protein (proteinuria), Henny dipastikan terkena preeklamsia.
Kelainan yang disebut juga Pregnancy Induced Hipertention(PIH) atau kehamilan yang menginduksi tekanan darah ini menurut dr. Boyke Dian Nugraha DSOG, hampir selalu terjadi pada kehamilan anak pertama. Di Inggris, katanya, preeklamsia menimpa sekitar 10-15% pada kehamilan anak pertama.
Menurut pengamatan para ahli, preeklamsia yang juga dikenal dengan sebutan kehamilan dengan pembengkakan – proteinuria – tekanan darah tinggi ini, lebih banyak terjadi di negara berkembang, termasuk Asia, di mana kebanyakan penduduknya mengkonsumsi nasi. Apa hubungan penyakit ini dengan nasi tetap
belum jelas benar. Ada dugaan lantaran titik beratnya pada nasi, maka ibu jadi kurang memperhatikan zat gizi lain, misalnya susu, telur, ikan, daging, sayur, buah-buahan, dll.
Awas kejang
Sejauh ini penyebab pasti terjadinya preeklamsia-eklamsia masih gelap, tapi diperkirakan pemicunya akibat pengeluaran hormon prostaglandin yang memunculkan efek “perlawanan” pada tubuh. Pembuluh-pembuluh darah jadi menciut, terutama pembuluh darah kecil, akibatnya tekanan darah meningkat.
Organ-organ pun akan kekurangan zat asam. Pada keadaan yang lebih parah, bisa terjadi penimbunan zat pembeku darah yang ikut menyumbat pembuluh darah pada jaringan-jaringan vital.
Menurut Boyke, penyakit ini bisa dibedakan dalam tiga tingkatan tergantung berat-ringannya. Pada kasus ringan, tekanan darah cenderung naik tapi masih di bawah 140-100. Gejala protein urea juga mulai muncul. Pada tingkat sedang, mulai timbul pusing, tekanan sudah lebih dari 140-100. Lalu ada pembengkakan khususnya pada wajah, kaki, dan jari-jari tangan. Pada tingkat yang berat, pembengkakan semakin jelas, rasa pusing juga makin nyata khususnya rasa nyeri pada pinggir dahi, dan tekanan darah lebih dari 160-100. Kadangkala dibarengi gangguan penglihatan (kabur) dan kencing semakin sulit karena terjadi gangguan pada ginjal. Ada pula yang disertai mual dan muntah-muntah.
Kondisi gawat terjadi bila timbul kejang atau bahkan pingsan yang berarti sudah terjadi gangguan di otak. Pada tahap ini bisa dikatakan penyakit berada pada tahap eklamsia. Pada kasus yang sudah lanjut sang ibu pada awalnya mengalami kejang selama 30 detik, lalu meningkat selama 2 menit, sebelum akhirnya pingsan selama 10 – 30 menit. Kewaspadaan perlu ditingkatkan, karena bila penderita koma berkepanjangan bisa timbul komplikasi berat. Seperti gagal jantung, gagal ginjal, terganggunya fungsi paru-paru, dan tersendatnya metabolisme tubuh.
Kejadian janin “meracuni” si ibu ini memang bisa membahayakan jiwa sang ibu sekaligus bayinya, seperti yang pernah dialami Ibu Ani sekitar 10 tahun lalu. Saat itu memasuki kehamilan bulan kesembilan kondisi Ani semakin parah. Tekanan darahnya tinggi. Ia mengalami pembengkakan hebat dan pusing serta sulit buang air kecil. Akhirnya ia dibawa ke rumah sakit dalam keadaan setengah pingsan. Sayang, jiwa sang bayi tidak tertolong, malah keadaannya dirinyapun sempat mengkhawatirkan. Pada kehamilan kedua, untung Ani tidak mengalami gangguan sama.
Dokter Boyke yang sering menangani penderita eklamsia ini juga tak habis pikir bagaimana bisa bayi yang notabene darahnya sendiri dianggap “musuh” oleh tubuh sang ibu. “Makanya bayi eklamsia itu sebenarnya menderita, maka biasanya beratnya kurang.” Oleh karena itu dokter yang juga menjabat kepala diklat RS Kanker Dharmais ini menyarankan agar para ibu hamil yang menderita preeklamsia-eklamsia mengkonsumsi makanan bergizi.
Anehnya segera setelah bayi dikeluarkan, dalam beberapa saat tekanan darah ibu langsung turun. Ini sekali lagi menegaskan kalau bayi eklamsia memang dianggap “musuh” oleh si ibu. Boyke menegaskan sebagian besar kasus preeklamsia-eklamsia cuma dijumpai pada kehamilan pertama. Tapi dalam kondisi khusus bisa muncul lagi pada kehamilan kedua. Misalnya saja bila penderita hamil lagi dengan pasangan lain. Atau pernah mengalami hamil anggur, kehamilan kembar, atau punya riwayat eklamsia berat, misalnya sampai kejang-kejang. Kelainan ini bukanlah faktor keturunan, tapi semata-mata bakat alami seseorang semata.
Kapan ke rumah sakit?
Menurut dokter yang sering muncul di layar TV ini penderita pada tahap preeklamsia sedang hendaknya mau dirawat di rumah sakit untuk memudahkan pemantauan kondisi ibu dan janin. Pemantauan meliputi fungsi ginjal lewat protein urinenya dan juga fungsi hati. Menu makanan sehari-hari pun perlu diperhatikan. Yang pasti konsumsi garam harus dikurangi, sedangkan buah-buahan dan sayuran diperbanyak.
Perhatian pada pertumbuhan janin juga tidak kalah penting karena pada ibu preeklamsia-eklamsia pertumbuhan janin terhambat, akibat makanan yang diterima kurang (akibat “penolakan” oleh tubuh ibu itu).
Guna menurunkan tekanan darah, bisa diberikan magnesium sulfat lewat infus. “Kadang pasien diminta minum aspilet atau Omega-3 dengan harapan tidak terjadi pembekuan darah,” tambah Boyke.
Dalam kehamilan biasa bayi akan lahir sendiri atau melalui operasi caesar setelah cukup bulan. Demikian pula pada kasus preeklamsia-eklamsia. Bayi diusahakan dikeluarkan pada usia kehamilan setua mungkin. Namun bila kondisi ibu semakin buruk, dalam arti gejala eklamsia semakin nyata, mau tidak mau dokter harus mengeluarkan bayi berapa pun usianya. “Tujuan utama menyelamatkan jiwa sang ibu, baru bayinya. Apa boleh buat kalau sang bayi tidak bisa diselamatkan,” ujar dr. Boyke, yang memang sering menangani kasus serupa. Pada situasi normal tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi preeklamsia-eklamsia baru dilakukan bila tekanan darah ibu sudah turun.
Dokter yang laris sebagai pembicara seminar ini pernah memberi pertolongan pada seorang ibu yang mendadak koma karena ternyata mendapat gangguan eklamsia yang tidak terdeteksi (tekanan darahnya tidak tinggi dan tidak terjadi pembengkakan). Ibu ini dibedah caesar dalam keadaan koma sehingga tidak dibutuhkan pembiusan. “Begitu bayi berhasil diangkat dengan selamat, sang ibu siuman.” Kasus preeklamsia-eklamsia tanpa tekanan darah tinggi seperti itu menurut Boyke merupakan kasus langka.
Mempersiapkan kehamilan
Kelainan preeklamsia-eklamsia berbeda dengan kehamilan dengan hipertensi. Bedanya, kalau pada preeklamsia-eklamsia tekanan darah yang tadinya normal tiba-tiba naik ketika kehamilan masuk minggu ke-20. Sementara penderita hipertensi yang hamil tekanan darahnya tinggi sejak awal. Menurut Boyke, bisa saja penderita hipertensi juga menderita preeklamsia. Biasanya pada kehamilan 20 minggu tekanan darahnya sudah mencapai 160-100. Tak tertutup kemungkinan penderita tekanan darah rendah juga bisa terkena preeklamsia.
Oleh karena itu Boyke menandaskan, pada kehamilan pertama setiap ibu harus waspada. Soalnya rahim yang untuk pertama kalinya menerima hasil pembuahan, seringkali menimbulkan serangkaian reaksi dan perubahan yang kurang wajar. Ia menyarankan kehamilan dipersiapkan sebaik-baiknya secara fisik dan mental. Suami juga perlu dilibatkan sehingga secara kejiwaan ibu dan bayi merasa “aman”.
Karena kematian pada ibu melahirkan sebagian besar disebabkan oleh perdarahan atau preeklamsia-eklamsia yang terlambat ditangani, maka pemeriksaan kehamilan secara teratur mutlak dilakukan. Apalagi kehamilan dengan gangguan preeklamsia-eklamsia tidak memandang usia ataupun tingkat sosial-ekonomi tertentu. Sebab itu Boyke berharap para dokter yang menangani puskesmas di daerah-daerah terpencil cepat waspada dengan tanda-tanda kehamilan preeklamsia-eklamsia. Bila perlu segera rujuk ke rumah sakit.
Kepada penderita yang dirawat di rumah disarankan menu makanan diatur sebaik-baiknya, banyak istirahat, menghindari stres, dan mengukur tekanan darah secara teratur. Kalau perlu, tersedia alat pengukur tekanan darah yang setiap saat dapat dipakai. Bila suatu saat berat badan penderita tiba-tiba naik drastis diikuti bengkak pada kaki, muka dan jari tangan, apalagi disertai rasa nyeri/pusing pada dahi, segeralah kembali ke dokter. Taatilah semua nasihat dokter yang menangani agar terhindar dari bahaya yang tidak diinginkan. Kewaspadaan pada setiap kehamilan merupakan kunci keselamatan bayi dan ibu.
ON THE RECORD …
Serem yaah ?? Itu judul sebuah artikel yang didapat suamiku karena dokter memvonisku berpenyakit demikian. Bayangin… hampir setahun merindukan untuk hamil, ketika diberi oleh Allah, kondisinya malah membuat aku terhenyak, bayiku meracuni ibunya… kog bisa? Gitu deh, Ibrahim yang kami rindukan kehadirannya, harus lahir setahun lalu secara caesar. Sementara sperti yang dikhawatirkan dokter, ternyata keesokan harinya pasca ’melahirkan’ aku kejang….saat itu seperti meregang nyawa, kurasakan tubuhku kehilangan kontrol, tak mampu lagi untuk bertahan dalam keadaan sadar.
Sayup…kudengar semua orang diruangan itu memanggil-manggil namaku, membimbing menyebut kalimat syahadat. Sempat kulihat suamiku, kami berpandangan, ingin kukatakan padanya, ’titip anakku ya bang….’ karena kufikir mungkin episode hidupku kan berakhir saat itu. Tapi mulutku pun sudah tak bisa diajak kompromi, terik alias kejang…. hatiku saja yang berkecamuk dalam dzikir mengingatNya. Aku pasrah, kalau pun aku harus finish…inilah jihadku…. alhamdulillah, kejadian itu tak berlangsung lama selang beberapa jam aku siuman. Saat itulah aku merasa oooh aku pingsan. Sungguh, sebelumnya aku tak pernah merasakannya. Saat melahirkan itulah, kuakrabi perawat, infus, operasi, jarum suntik, pingsan, kateter-kalau ndak salah, itu namanya untuk nyebut selang kencing, dokter, bius, obat dan sederet hal lain yang behubungan dengan perjuangan untuk sembuh. Padahal sebelumnya aku tak pernah dan tak ingin berurusan dengan semua itu. Dokter Boyke artikel tersebut bilang, ia sering menangani penderita eklamsia ini juga tak habis pikir bagaimana bisa bayi yang notabene darahnya sendiri dianggap “musuh” oleh tubuh sang ibu. “Makanya bayi eklamsia itu sebenarnya menderita, maka biasanya beratnya kurang.” Ya, itu pula yang terjadi pada anakku, berat badan nya hanya 2200 gram alias 2,2 kg. Alhamdulillah, begitu dipisahkan dari ibunya dia langsung unjuk rasa, nanges sa’kuenceng-kuencengnya dan tubuhnya pun tidak pucat, sehingga dokter Syahnural Lubis yang menanganiku memutuskan bahwa si dedek tak perlu dikurung dalam tabung. Itu anak kecil, beratnya segitu doang karena plasenta ibu rusak, tidak bisa menyalurkan jatah makanan sebagaimana mestinya, kata pak dokter. Duh, anakku… kita fren dong… cukuplah ’perkelahian’ kita. Aku sangat berharap tak ada lagi cerita racun-racunan. Karena sesungguhnya kita saling mencintai, saling menyayangi, semoga Allah mengumpulkan kita di JannahNya ya naak.. sama abee, umee, apo, datok, nenek, paman, pak usu, dan semua pihak yang telah membantu.aamiin.
Terima kasih sudah membaca dan semoga mendapat manfaat.
No comments yet.


